Aneh, di jaman emansipasi saat ini di instansi pemerintah masih saja ada papan atau logo yang mendeskripsikan organisasi kumpulan para istri. Orang menyebutnya Dharma Wanita misalnya untuk organisasi istri pegawai negeri. Ketuanya juga secara ex officio dijabat istri yang menjadi Pimpinan di kantor tersebut. Tetapi juga heran bagaimana jika Pimpinan di kantor tersebut adalah wanita maka seharusnya suaminya menjadi Ketua organisasi tersebut tetapi nyatanya tidak demikian.
Masihkah relevan organisasi-organisasi seperti itu saat ini. Di saat para wanita telah mampu menduduki Pimpinan pada beberapa kantor instansi pemerintah. Organisasi tersebut mengesankan bahwa para wanita hanyalah sebagai ibu rumah tangga dan supaya ada kegiatan saat suami ngantor maka mereka membuat organisasi-organisasi wanita.
Terus apa manfaatnya? Bukankah wanita saat ini sudah biasa berada pada organisasi lain seperti organisasi palang merah, organisasi politik, organisasi agama dan organisasi lainnya? Terus dari mana organisasi ini mendapatkan pendanaan untuk operasionalnya?Tidak secara jelas sumber pendanaannya tetapi yang jelas mendapatkan dana operasional dari sekitar kantor tersebut, buat daganganlah, minta suami yang menjadi pimpinan di kantor tersebut sampai dengan meminta dari vendor/ supplier yang ada di kantor tersebut dan juga atas permintaan suaminya. Lucu kan, menjadi seperti organisasi pengemis.
Sudah menjadi kebiasaan bahwa organisasi2 seperti ini mencekcoki suaminya kalau perjalanan dinas luar kota/ luar negeri. Minta minta ikutlah dan belanja belanjalah dan malah merepotkan instansi/ tempat yang dituju. Akibatnya tujuan perjalanan dinas luar kota/ negeri menjadi tidak tercapai hanya untuk mengurusi keinginan para istri-istri organisasi ini. Hal lain adalah mereka buat acara-acara yang pembiayaannya dibebankan pada anggaran instansi/ kantor, padahal tidak ada hubungan dengan tugas pokok instansi tersebut. Buat acara masak-memasaklah, merangkai bungalah, bukankan acara-acara seperti ini dapat diikuti pada organisasi lain di luar kantor suaminya? Terus mereka buat koperasi-koperasi an lah yang ngurusin kantin kantor, suply kue-kue an kalau ada jamuan di kantor dan tentunya proses pengadaannya melalui tunjuk langsung atas intervensi para suami-suaminya. Kantin yang menggunakan asset kantor pun tidak akan pernah disewa. Beberapa uraian di atas adalah keseharian dan merupakan bagian dari budaya korupsi.
Sudah menjadi jamak juga bahwa organisasi seperti ini dibuat para ibu-ibu para pejabat menjadi ajang arisan. Dan tidak tanggung-tanggung, arisannya arisan berlian. Darimana duitnya? Akhirnya ngambek pada suami untuk mendapatkan uang walau dari gaji suaminya hal itu tidak memungkinkan. Kondisi ini akan memberikan kontribusi peningkatan niat bagi suami untuk korupsi.
Sudah saatnya organisasi-organisasi seperti ini dibubarkan. Tidak ada kontribusinya pada tugas pokok kantor suaminya bekerja. Lagi pula saat ini para istri sudah banyak yang bekerja bahkan posisi istrinya malah melebihi posisi suaminya. Jika pemerintah saat ini lebih memperdayakan perempuan maka sudah saatnya organisasi seperti ini dibubarkan sebab ada kesan bahwa organisasi ini merendahkan perempuan dan memperlakukan perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga. Jika ada organisasi istri para pegawai kenapa tidak ada organisasi suami para pegawai? Bukankah saat ini perempuan dan laki laki mempunyai kesempatan yang sama?


