RSS

Organisasi/Kumpulan Para Istri, Ikutkah Berkontribusi Pada Niat Suami Untuk Korupsi?

24 Sep

Aneh, di jaman emansipasi saat ini di instansi pemerintah masih saja ada papan atau logo yang mendeskripsikan organisasi kumpulan para istri. Orang menyebutnya Dharma Wanita misalnya untuk organisasi istri pegawai negeri. Ketuanya juga secara ex officio dijabat istri yang menjadi Pimpinan di kantor tersebut. Tetapi juga heran bagaimana jika Pimpinan di kantor tersebut adalah wanita maka seharusnya suaminya menjadi Ketua organisasi tersebut tetapi nyatanya tidak demikian.

Masihkah relevan organisasi-organisasi seperti itu saat ini. Di saat para wanita telah mampu menduduki Pimpinan pada beberapa kantor instansi pemerintah. Organisasi tersebut mengesankan bahwa para wanita hanyalah sebagai ibu rumah tangga dan supaya ada kegiatan saat suami ngantor maka mereka membuat organisasi-organisasi wanita.

Terus apa manfaatnya? Bukankah wanita saat ini sudah biasa berada pada organisasi lain seperti organisasi palang merah, organisasi politik, organisasi agama dan organisasi lainnya? Terus dari mana organisasi ini mendapatkan pendanaan untuk operasionalnya?Tidak secara jelas sumber pendanaannya tetapi yang jelas mendapatkan dana operasional dari sekitar kantor tersebut, buat daganganlah, minta suami yang menjadi pimpinan di kantor tersebut sampai dengan meminta dari vendor/ supplier yang ada di kantor tersebut dan juga atas permintaan suaminya. Lucu kan, menjadi seperti organisasi pengemis.

Sudah menjadi kebiasaan bahwa organisasi2 seperti ini mencekcoki suaminya kalau perjalanan dinas luar kota/ luar negeri. Minta minta ikutlah dan belanja belanjalah dan malah merepotkan instansi/ tempat yang dituju. Akibatnya tujuan perjalanan dinas luar kota/ negeri menjadi tidak tercapai hanya untuk mengurusi keinginan para istri-istri organisasi ini. Hal lain adalah mereka buat acara-acara yang pembiayaannya dibebankan pada anggaran instansi/ kantor, padahal tidak ada hubungan dengan tugas pokok instansi tersebut. Buat acara masak-memasaklah, merangkai bungalah, bukankan acara-acara seperti ini dapat diikuti pada organisasi lain di luar kantor suaminya? Terus mereka buat koperasi-koperasi an lah yang ngurusin kantin kantor, suply kue-kue an kalau ada jamuan di kantor dan tentunya proses pengadaannya melalui tunjuk langsung atas intervensi para suami-suaminya. Kantin yang menggunakan asset kantor pun tidak akan pernah disewa. Beberapa uraian di atas adalah keseharian dan  merupakan bagian dari budaya korupsi.

Sudah menjadi jamak juga bahwa organisasi seperti ini dibuat para ibu-ibu para pejabat menjadi ajang arisan. Dan tidak tanggung-tanggung, arisannya arisan berlian. Darimana duitnya? Akhirnya ngambek pada suami untuk mendapatkan uang walau dari gaji suaminya hal itu tidak memungkinkan. Kondisi ini akan memberikan kontribusi peningkatan niat bagi suami untuk korupsi.

Sudah saatnya organisasi-organisasi seperti ini dibubarkan. Tidak ada kontribusinya pada tugas pokok kantor suaminya bekerja. Lagi pula saat ini para istri sudah banyak yang bekerja bahkan posisi istrinya malah melebihi posisi suaminya. Jika pemerintah saat ini lebih memperdayakan perempuan maka sudah saatnya organisasi seperti ini dibubarkan sebab ada kesan bahwa organisasi ini merendahkan perempuan dan memperlakukan perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga. Jika ada organisasi istri para pegawai kenapa tidak ada organisasi suami para pegawai? Bukankah saat ini perempuan dan laki laki mempunyai kesempatan yang sama?

 
 

2 responses to “Organisasi/Kumpulan Para Istri, Ikutkah Berkontribusi Pada Niat Suami Untuk Korupsi?

  1. Naddinne A

    May 15, 2014 at 11:48 pm

    Sangat setuju dengan artikel ini. Memang kegiatan Dharma Wanita yang masih lekat pada organisasi pemerintah atau BUMN ini sangat menggemaskan. Dulu saat orde reformasi dimulai sempat ada berita rencana pembubaran organisasi Drama Wanita upppss…salah….Dharma Wanita (DW) yang benar, tapi kemana lanjutannya ya? Kenapa kumpulan ini masih hidup terus di Indonesia bahkan juga hidup subur di LN via kedutaan dan konjen-konjen di sana.

    Dari apa yang terjadi lebih banyak hal buruk yang ditimbulkan dibandingkan kebaikannya. Seorang rekan yang ikut tugas suami ke luar negeri terpaksa melihat rencananya untuk melanjutkan kuliah hancur lebur akibat paksaan harus ikut kegiatan DW. Kami nggak habis pikir kesempatan tinggal di kota hebat dunia kok dilalui dengan arisan dan kumpul-kumpul tak berarti. Coba lihat efek negatif DW berikut:

    1. Sangat mungkin terjadi seorang wanita dengan kompetensi rendah menjadi pemimpin DW hanya karena jabatan suaminya. Wanita yang kurang kompeten seperti ini biasanya menjalankan organisasi dengan komunikasi gaya rendahan: rumpi-rumpi, menyindir, briefing ke anggota dengan topik kurang penting (misalnya: ‘Mbak…. Saya akan bicara bagaimana Mbak harus berperilaku untuk mendukung karir suami.’ Sementara yang akan diceramahi adalah eks senior manajer perusahaan asing. Dan yang menceramahi adalah Ibu rumah tangga murni. Isi pembicaraan ini tentunya menjadi sangat lucu dan nonsense).
    2. Kegiatan yang dilaksanakan menyita waktu dan biaya. Hitung saja berapa jumlah uang untuk mendukung tampilan saat ada kegiatan berkumpul. Istri atasan bisa memberi ceramah jika tampilan ‘anak buah’ kurang OK (tapi jangan salah, ada aturan tak tertulis ‘jangan tampil lebih keren dari Ibu boss’), saat inipun sedang ada trend untung menetapkan ‘dress code’ pada suatu pertemuan (dress code perlu ongkos) lalu setelah dandan dan tampak trendi, tentu ada biaya taksi untuk transpor. Belum lagi kerepotan untuk urusan pendelegasian mengenai siapa yang harus jemput anak, masak dll.
    3. Adanya kegiatan DW ini terkadang membuat atasan (pria) ikut mengurusi sesuatu yang tidak memiliki nilai tambah bagi jabatan yang diembannya. Karena rengekan sang istri, ia bisa menegur bawahannya yang istrinya kurang ‘aktif’ berorganisasi DW. Come on Pak…. Mending Bapak fokus aja ke urusan kerja supaya target pekerjaan Bapak tercapa. Emangnya si istri dapat apa kalau ikutan….? Cuma repot aja kan dapatnya?
    4. Budget organisasi. Dengar-dengar sebuah bank plat merah papan atas mengalokasikan budget DW melalui jalur budget CSR-nya. Wallahualam. Kalau KPK ikut campur, pasti jadi pemandangan menarik melihat ibu2 sasak hadir dimgedung KPK untuk diinterogasi.

    Intinya, (apalagi dengan semakin banyaknya wanita yang menduduki jabatan penting) biarkanlah wanita memilih kegiatan yang diinginkannya. Jangan mereka dipaksa mengikuti hierarki karena posisi jabatan suami. Jangan mereka dipaksa mendapat bos jika mereka tidak diberi gaji (kan yang gajian hanya suami). Apapun kegiatan si istri entah mereka juga memiliki karir sendiri, memilki usaha sendiri atau memang benar-benar menjadi ibu rumah tangga 100%, tapi bebaskanlah mereka memilih pergaulan mereka sendiri tanpa harus dikaitkan dengan kantor suami.

    Sebagai tindak lanjut bisakah suara hati ini diteruskan ke Ibu Menteri Urusan Pemberdayaan Wanita, para LSM yang bergerak di bidang kesetaraan jender? Atau sekalian ke para Capres? (Nggak usah ke Presiden yang sekarang, soalnya kelihatannya istrinya pro DW hehe…). Ibu Karen dari Pertamina, Ibu Sri Mulyani, mau bantu kami?

    Akhir kata,setuju banget dengan penutup tulisan di atas. Jika memang Dharma Wanita tidak bisa dibubarkan, supaya adil bagaimana jika kita juga mengadakan perkumpulan Dharma Pria? Loh…..kan di pemerintahan sudah banyak pejabat wanita, suami-suami mereka juga harus diberi ‘wadah’ dong……

     
    • Bersama, Lawan Korupsi

      July 16, 2014 at 5:29 am

      Saat ini kami juga lagi menggalang opini untuk membubarkan para organisasi-organisasi jenis ini..menggelikan nampaknya melihat organisasi seperti ini..

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: