RSS

Efektif mana untuk Berantas Korupsi? Jujur dan Beragama atau Akuntabel dan Transparan

12 Dec

Ada hal yang menari melihat budaya dan kebiasaan sebagai orang Indonesia. Bekerja dan menikah sebagai amanah dan ibadah dan segala sesuatu dihubungkan dengan sorga dan neraka. Ke sorga jika berkelakuan baik dan ke neraka jika berbuat jahat. Itulah kebiasaan masyarakat Indonesia.

Korupsi dikategorikan sebagai perbuatan jahat maka melihat kebiasaan di atas seharusnya korupsi tidak terjadi. Karena sejak lahir sampai mau meninggal orang Indonesia itu selalu didengungkan perbuatan baik, agama dan sorga. Tetapi bagaimana kenyataannya? Indonesia masih masuk pada negara dengan kategori terkorup di dunia. Kenapa hal itu terjadi?

Ada perbedaan antara kehidupan sebagai pribadi dan kehidupan sebagai masyarakat publik. Agama dan jujur adalah dalam hubungan dengan kehidupan pribadi. Masing-masing pribadi mempunyai nilai sesuai dengan agama yang diyakini. Tidak ada yang bisa menggugat hal tersebut sebab kehidupan pribadi dalam konteks agama adalah dalam hubungan dengan Tuhan, kehidupan setelah mati.

Korupsi adalah dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Kehidupan publik. Sehingga harus lebih menonjolkan nilai nilai publik atau masyarakat yang disepakati bersama. Korupsi menjadi berlawanan dengan publik karena secara bersama-sama diatur sedemikian dalam kehidupan bermasyarakat. Pengertian korupsi pun diatur sedemikian rupa dalam aturan-aturan kehidupan publik. Memberantas korupsipun haruslah dengan nilai nilai publik/ masyarakat yaitu nilai nilai akuntabilitas dan transparansi. Hal hal ini yang harus selalu ditonjolkan dalam pemberantasan korupsi bukan nilai nilai personal seperti jujur, ibadah, sorga dan neraka dan lain lain yang sifatnya personal.

Karena mengorupsi berarti mengambil milik publik/ masyarakat. Korupsi juga selalu melibatkan pejabat publik yang bekerja dan digaji oleh publik. Dengan demikian para pejabat publik haruslah bertanggungjawab kepada publik melalui mekanisme transparansi dan akuntabilitas. Pejabat publik haruslah melakukan sesuatu tugas berdasarkan mandat yang diberikan oleh masyarakat/ publik. Dengan transparansi dan akuntabilitas maka penyimpangan berupa korupsi akan segera diketahui oleh publik dan dengan demikian pejabat publik tersebut harus mendapatkan ganjaran sesuai dengan hukum publik, bukan dengan hukum-hukum personal dan keyakinannya.

Coba dibayangkan seandainya ada yang mempunyai keyakinan personal bahwa korupsi adalah baik. Tetapi tidak menjadi masalah orang tersebut mempunyai keyakinan tersebut jika hukum publik menyebut bahwa korupsi harus mendapatkan ganjaran. Jika dia korupsi maka mengambil milik publik dan harus mendapatkan ganjaran hukum publik. Tidak masalah apakah dia masuk surga atau masuk negara sebab hal tersebut adalah urusan personal dia dengan Tuhannya.

Pemberantasan korupsi akan menjadi efektif dengan transparansi dan akuntabilitas bukan dengan slogan slogan jujur, ibadah atau agama..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: