RSS

Variabel “Niat”

Mengurangi korupsi dengan cara menurunkan niat membutuhkan usaha yang sangat besar dalam waktu yang sangat lama (jangka panjang). Sifatnya sangat abstrak dan sulit diukur keberhasilannya. Sangat dipengaruhi oleh kondisi atau nilai yang dianut oleh masyarakat serta kondisi nilai eksternal yang mempengaruhi nilai masyarakat pada saat itu. Beberapa kondisi-kondisi yang meningkatkan niat untuk korupsi diantaranya adalah:

  • sikap hidup materialis dimana penghargaan atas seseorang lebih karena kepemilikan materi/ uang tanpa peduli darimana asal uangnya

  • faktor kebutuhan, seperti gaji sebulan hanya cukup untuk seminggu atau gaji tidak cukup untuk membiayai suatu standar hidupnya

  • keinginan yang melebihi kemampuan, ingin mempunyai rumah mewah, mobil mewah, dll

  • paradigma di masyarakat, seperti pejabat pasti mempunyai banyak uang sehingga permintaan sumbangan selalu dialamatkan kepada pejabat, melakukan pesta mewah dan besar-besaran adalah simbol kemakmuran sebagaimana seremonial di beberapa suku di Indonesia, memberi uang terima kasih dan upeti kepada penguasa adalah hal biasa,

  • perbedaan perlakuan pegawai/ pejabat publik terhadap orang kaya dan miskin
  • dll

Menurunkan niat korupsi dapat dilakukan melalui program-program diantaranya:

  • pendidikan agama (menanamkan nilai bahwa korupsi adalah perbuatan dosa dan dikutuk oleh agama). Sampai dengan tingkatan pemahaman maka peran ini telah berhasil dilakukan oleh agama. Para pemuka agama telah berhasil meyakinkan masyarakat dan telah berhasil menanamkan nilai di masyarakat bahwa perbuatan korupsi itu adalah dosa dan tidak baik. Usaha-usaha ini juga dilakukan oleh lembaga pendidikan. Tetapi dalam tahapan aksi/ tindakan usaha ini masih gagal. Niat korupsi masih tetap tinggi. Bahkan ada kecenderungan sikap permisif masyarakat sebagaimana pemberitaan media dimana dalam kasus cek pelawat, ada terpidana yang menggunakan uang yang diperoleh dari cek pelawat untuk menyumbang gereja dan membangun pesantren.

  • menyediakan kebutuhan seperti menaikkan gaji/ perbaikan remunerasi pegawai publik sehingga cukup untuk membiayai hidup dengan ukuran tertentu

  • pengenalan/ pendidikan anti korupsi

  • dan lain lain

Keberhasilan menurunkan korupsi melalui niat (x) dapat dituliskan dalam rumus:

x = f(Fnka-Fnki), dimana:

Fnka = usaha-usaha untuk menurunkan niat korupsi (siraman rohani, sosialisasi/ pendidikan anti korupsi, dll)

Fnki = niat untuk korupsi (sikap hidup materialis, hedonis, dll)

Untuk kondisi Indonesia, hasil penelitian dan survey menunjukkan bahwa secara agregate x bergerak ke kiri yang berarti bahwa niat orang untuk korupsi semakin besar dan usaha-usaha untuk mengurangi niat tidak mampu untuk membendung niat untuk korupsi. Di beberapa tempat memang dapat ditemukan x bergerak ke kanan yang berarti usaha-usaha untuk mengurangi niat berhasil untuk membendung niat korupsi seperti pada pegawai-pegawai abdi dalem di Yogyakarta, kalangan pastor/ biarawati. Tetapi masyarakat ini adalah masyarakat yang unik yang lebih mengedepankan kehidupan supranatural dibandingkan dengan kehidupan-kehidupan masyarakat yang normal. Untuk itu usaha-usaha untuk memberantas korupsi dengan menurunkan niat, seperti pendidikan anti korupsi, kampanye anti korupsi, sosialisasi anti korupsi, dan lain lain akan cenderung tidak berhasil sepanjang nilai atau paradigma di masyarakat tidak mendukungnya. Dapat dianalogikan bahwa usaha-usaha pemberantasan korupsi dengan menghilangkan niat adalah sama dengan usaha-usaha untuk membuat tawar air laut dengan hujan dan aliran sungai. Di muara sungai memang ada pengurangan kadar asin air laut tetapi lebih jauh lagi rasa tawar air hujan dan air sungai sudah tidak berpengaruh signifikan untuk mempengaruhi rasa asin air laut. Pemberantasan korupsi dengan menurunkan niat hanya akan mendapatkan dukungan dari masyarakat jika secara langsung dapat memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat sehari-hari dan hal ini dapat dilakukan dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan hak dan kepentingan publik (lihat Pemberantasan Korupsi melalui Peningkatan Kesadaran atas Hak dan Kepentingan Publik)

Untuk kondisi Indonesia maka NIAT terjadinya korupsi adalah BESAR yang diindikasikan dengan gaji pejabat tidak mencukupi, kondisi masyarakat yang materialis, adanya nilai/ paradigma di masyarakat yang mendukung korupsi seperti seremonial-seremonial adat dan lain lain. Di saat yang sama KESEMPATAN untuk korupsi adalah BESAR yang dapat dilihat dari kewenangan pejabat yang besar, penyebaran anggaran ke daerah yang besar, pengawasan publik yang lemah (permisif terhadap korupsi), sistem pengendalian yang lemah, dll. Kondisi ini diperparah dengan RESIKO korupsi RENDAH , yang ditunjukkan dengan proses pembuktian yang berbelit-belit, penegak hukum yang bisa disuap untuk menutup-nutupi kasus, pidana kurungan yang rendah, pengembalian uang pengganti hanya sampai jumlah kerugian negara yang ditimbulkan. Maka dapat dipastikan bahwa kemungkinan terjadinya KORUPSI di INDONESIA adalah SANGAT BESAR.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: