RSS

Kenapa Korupsi Terjadi ?

PENDAHULUAN

Korupsi adalah perbuatan/ tindakan, dimulai dengan adanya niat, kemudian berusaha mencari-cari kesempatan atau sebaliknya dimulai dengan adanya kesempatan dan kesempatan tersebut menimbulkan niat. Dengan adanya niat dan tersedianya kesempatan maka tahapan selanjutnya adalah berpikir seberapa besar resikonya melakukan perbuatan tersebut. Jika merasa mampu menerima resiko maka terjadilah perbuatan korupsi tetapi jika dirasa resikonya besar maka akan menunda bahkan menghindari perbuatan tersebut.

Perbuatan korupsi adalah candu dan mengasyikkan. Korupsi akan memberikan sejumlah uang dalam waktu yang singkat, nilainya besar bahkan bisa melebihi jumlah gaji selama puluhan tahun bahkan bisa melebihi jumlah gaji selama ratusan tahun. Kemudian setelahnya, dengan uang tersebut akan dapat menikmati hidup, menjadi orang kaya, mampu membeli rumah mewah, mobil mewah, mampu membayar biaya kesehatan, biaya pendidikan, liburan, gaya hidup, bahkan rasa hormat melalui peningkatan dan pencitraan sosial. Bertindak sebagai dermawan dan pemurah dengan menyumbang atau donatur untuk lembaga-lembaga agama dan sosial.

Kondisi ini didukung oleh situasi dan nilai yang beredar di masyarakat. Rumah, kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan fisik lainnya membutuhkan uang dalam jumlah yang besar terutama dalam masyarakat masyarakat perkotaan/ modern. Rumah, kesehatan, pendidikan, biaya hidup tidak bisa diperoleh dengan hanya jujur dan berintegritas saja. Siapapun tidak akan mampu meminta masyarakat dan orang lain untuk memberikan kesempatan pertama pada orang yang jujur dan berintegritas. Pelayanan, kemewahan dan rasa hormat harus dibayar dengan uang. Siapa mempunyai uang maka dia akan mendapatkan kesempatan pertama, pelayanan yang utama dan hal-hal utama lainnya yang sifatnya materialis. Materialisme telah merupakan tujuan hidup masyarakat saat ini.

Jahatnya adalah perbuatan korupsi ibarat kanker yang merusak kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat. Perbuatan korupsi hanyalah menguntungkan para pelakunya dan secara perlahan dan pasti perbuatan ini akan merusak tatanan hidup kolektif/ masyarakat yang mengakibatkan hak-hak ekonomi, sosial, politik masyarakat terampas untuk hidup adil, makmur dan sejahtera sehingga masyarakat akan terjatuh pada kemiskinan, kebodohan bahkan perbudakan. Dengan demikian perbuatan korupsi perlu dan harus diberantas.

VARIABEL-VARIABEL TERJADINYA KORUPSI

Kenapa korupsi terjadi ? Variabel apa saja yang mempengaruhi individu untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan korupsi ? Pertanyaan ini adalah pertanyaan dasar yang harus dijawab untuk bisa memberantas korupsi. Dengan mengetahui jawaban atas pertanyaan tersebut maka akan dapat dilakukan usaha-usaha untuk mengatasinya, secara praktis, menyeluruh dan sistematis sehingga pemberantasan korupsi secara pasti mengalami kemajuan, menciptakan Indonesia yang bebas dari korupsi, menciptakan suasana yang kondusif bagi semua pihak untuk bekerja, memberikan kontribusi terbaik menuju masyarakat Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera.

Individu bekerja dalam suatu bidang (seperti bidang penegakan hukum, pajak, bidang anggaran, bidang pelayanan publik, bidang infrastruktur, bidang perbankan, dll). Korupsi juga terjadi pada bidang-bidang tersebut. Mengambil contoh bidang bea cukai, kenapa orang yang bekerja pada bidang bea cukai melakukan korupsi ? Pertanyaan tersebut dianalisis, kemudian hasil analisis digunakan untuk mendiagnosis dan mengambil langkah-langkah yang perlu dan sistematis untuk mengurangi kemungkinan bahkan menghindari/ mencegah seseorang melakukan korupsi dan juga mempertahankannya sehingga proses dan sistemnya berkelanjutan.

Dari penjelasan di atas maka perbuatan korupsi dalam bentuk matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

Ko = f(N,K,R)

dimana:

Ko = perbuatan korupsi

N = niat

K = kesempatan

R = resiko melakukan korupsi

Perbuatan korupsi adalah fungsi dari niat, kesempatan dan resiko perbuatan korupsi, dimana Ko berbanding lurus dengan N, K dan berbanding terbalik dengan R. Tetapi variabel-variabel Ko, N, K dan R mempunyai hubungan yang sangat kompleks dan saling tergantung satu sama lain dan dapat dituliskan dalam persamaan berikut:

Ko = f(N,K,R) , dimana

N = f(Ko, K, R,e)

K = f(Ko, N, R,e)

R = f(Ko, N, K,e), e = hal lain yang mempengaruhi.

Ilmu-ilmu eksak mempunyai penyelesaian untuk persamaan di atas, salah satunya adalah metode iterasi dan dengan bantuan pemrograman/ komputer hal tersebut menjadi mudah untuk diselesaikan dalam waktu yang singkat dan akurasi yang tinggi. Tetapi dalam konteks sosial melakukan iterasi adalah hal yang tidak mungkin.

Dalam bentuk sederhana persamaan perbuatan korupsi dapat dituliskan sebagai berikut:

Ko = (aN * bK)/cR

dimana a,b, dan c adalah konstanta.

Dengan memahami rumus dari perbuatan korupsi (Ko) maka pemberantasan korupsi berarti menghilangkan/ menurunkan nilai Ko dengan cara menurunkan variabel niat (N) dan kesempatan (K) serta menaikkan variabel resiko (R).

KEMUNGKINAN TERJADINYA KORUPSI

Kemungkin terjadinya korupsi dengan mempertimbangkan ketiga variable di atas adalah sebagai berikut:

Ko = (aN * bK)/cR

maka kemungkinan terjadinya korupsi dapat ditulis dalam bentuk tabel sebagai berikut:

Niat

Kesempatan

Resiko

Kemungkinan Terjadinya Korupsi

0

0

Tidak relevan

0

1

0

Tidak relevan

0

0

1

Tidak relevan

0

1

1

Kecil

Kemungkinan korupsi besar

(kondisi Indonesia)

1

1

Besar

Kemungkinan korupsi kecil

0<N<1

0<K<1

Relevan

0<Ko<1

Untuk kondisi Indonesia maka NIAT terjadinya korupsi adalah BESAR yang diindikasikan dengan gaji pejabat tidak mencukupi, kondisi masyarakat yang materialis, adanya nilai/ paradigma di masyarakat yang mendukung korupsi seperti seremonial-seremonial adat dan lain lain. Di saat yang sama KESEMPATAN untuk korupsi adalah BESAR yang dapat dilihat dari kewenangan pejabat yang besar, penyebaran anggaran ke daerah yang besar, pengawasan publik yang lemah (permisif terhadap korupsi), sistem pengendalian yang lemah, dll. Kondisi ini diperparah dengan RESIKO korupsi RENDAH , yang ditunjukkan dengan proses pembuktian yang berbelit-belit, penegak hukum yang bisa disuap untuk menutup-nutupi kasus, pidana kurungan yang rendah, pengembalian uang pengganti hanya sampai jumlah kerugian negara yang ditimbulkan. Maka dapat dipastikan bahwa kemungkinan terjadinya KORUPSI di INDONESIA adalah SANGAT BESAR.

CONTOH APLIKASI PADA PEMBERANTASAN KORUPSI DI BEA CUKAI

Contoh bidang yang diambil adalah Bea Cukai. Pemberantasan korupsi pada pegawai Bea Cukai dengan cara praktis, sistematis dan komprehensif adalah penerapan usaha-usaha secara bersamaan ketiga variabel di atas yaitu mengurangi niat pegawai bea cukai untuk korupsi, mengurangi kesempatan pegawai bea cukai untuk korupsi dan meningkatkan resiko pegawai bea cukai untuk melakukan korupsi.

Secara nyata dalam waktu singkat strategi ini akan langsung memberikan dampak positif pengurangan korupsi dan efek positif pelayanan bea cukai kepada masyarakat. Usaha-usaha yang dapat dilakukan yang mencakup ketiga variabel di atas adalah sebagai berikut:

  1. Memperkecil niat. Salah satu diantaranya adalah dengan perbaikan remunerasi sehingga kebutuhan pegawai Bea Cukai mencukupi untuk suatu ukuran tertentu. Usaha ini tidak akan bertahan lama dan tidak terukur keberhasilannya sebab nilai-nilai masyarakat dan derasnya arus sikap hidup materialistis dan hedonis dari dalam dan luar negeri akan mengalahkan usaha-usaha ini. Usaha dalam memperkecil niat korupsi cukup pada perbaikan remunerasi saja dan tidak akan fokus pada usaha-usaha lain seperti pendidikan anti korupsi, kampanye, sosialisasi atau kegiatan-kegiatan lainnya yang sejenis. Pendidikan korupsi, integritas dan moral pegawai Bea Cukai diberikan kepada lembaga agama dan lembaga pendidikan formal dan non formal di Bea Cukai.

  2. Memperkecil kesempatan. Hal ini lebih realistis dilakukan oleh karena analisis terjadinya korupsi (failure of system) lebih ke arah keahlian dan hasil kajian. Perbaikan sistem dapat dilakukan pihak lain atau dilakukan sendiri oleh Bea dan Cukai. Usaha-usaha untuk memperkecil kesempatan diprediksi akan berhasil pada suatu tingkatan tertentu (0<K<1)

  3. Meningkatkan resiko: Meningkatkan resiko korupsi juga lebih realistis dilakukan oleh aparat lain seperti KPK, Kepolisian dan Kejaksaan atau aparat penegak hukum lain. Perlu dikaji untuk meningkatkan resiko seperti penerapan hukuman lebih dari 20 tahun, uang pengganti 100x, pemiskinan dan lain lain, tetapi tentunya hal ini harus diatur lebih dahulu dalam peraturan per UU an.

  4. Untuk menjaga sistem bekerja dengan baik maka perlu diciptakan early warning system terjadinya korupsi seperti laporan audit BPK, pelaporan harta kekayaan yang benar. Perlu juga diputihkan kondisi-kondisi yang memaksa orang untuk bertindak korup padahal tidak ada niat untuk itu seperti pelaporan Gratifikasi. Pelaporan harta kekayaan haruslah benar sehingga terjadinya korupsi di Bea Cukai akan menimbulkan ketidakwajaran pada laporan harta kekayaan. Jika ini tidak terjadi maka sistem early warning system melalui laporan harta kekayaan akan gagal. Early warning system dapat juga dilakukan melalu metode survey, tetapi harus ditindaklanjuti untuk menghindari system yang korup (failure) ke depan.

  5. Secara bersamaan Bea Cukai harus berusaha menggalang partisipasi masyarakat untuk mendukung sistem di Bea Cukai. Hal ini dapat dilakukan dengan keterbukaan informasi, pendidikan masyarakat atau kampanye pada masyarakat.

  6. Maintenance dan Sustainability : Karena niat untuk korupsi akan selalu tinggi sementara usaha-usaha untuk menghilangkan kesempatan sampai tingkatan nol adalah mustahil maka perlu diantisipasi kegagalan sistem yang lain yang sebelumnya tidak bisa diprediksi. Dengan niat yang tinggi maka para pelaku korupsi akan merubah cara atau modus korupsi dalam bentuk lain seperti pengalihan tempat korupsi ke tempat lain atau bentuk-bentuk yang lain. Untuk itu sistem yang telah dibangun perlu dijaga dan ditingkatkan terus-menerus oleh pihak Bea Cukai sendiri atau oleh lembaga lain seperti KPK sehingga system tetap andal dan terhindar dari kegagalan (terjadinya korupsi).

Usaha-usaha pemberantasan korupsi sebagaimana di Bea Cukai dilakukan juga pada bidang-bidang yan lain seperti bidang pajak, anggaran, pengadaan publik, pelayanan publik, penegakan hukum, infrastuktur dan bidang yang lain sehingga dapat dipastikan bahwa pemberantasan korupsi akan langsung membawa dampak pada peningkatan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan kehidupan masyarakat dan secara paralel akan meningkatkan kemampuan untuk memberantas korupsi dengan skala besar.

 

2 responses to “Kenapa Korupsi Terjadi ?

  1. yudrik

    June 6, 2014 at 10:17 pm

    terlalu panjang intinya klo semua ini g mau dilanjudkan yah harus ada hal yg membuatnya takut donk,, misal koruptor di hukum bunuh, di jadiin sate , satenya di kasik k asu….. bereskan, selama koruptor hanay di kurung, kan msi bnyak dr mereka yg lebih ingin melakukannya, toh seng ngurung juga manusia, di suap keluar, bereskan,, kecuali, dg jelas, di kurung di planet mars gtw, di tinggalin dan di suruh cri makan dewek, selama hal tersebut tidak menakutkan para asu g kan takut , n bila g segera di tanggapi tegas, masalah kemanusiaan nie, hanya kan memicu yg lain untuk berbuat sama n lebih, hihihihihi pada akhirnya kita manusia akan saling membunuh,,, bgtw kan,,,,,,,

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: