RSS

Mau Pintar Kok Susah..?

19 Jul

Si A adalah pegawai publik, golongan III, mempunyai anak 2 dan 1 istri, saat ini sedang bekerja di suatu instansi negara di Jakarta. Istrinya juga bekerja sebagai pegawai publik dengan golongan II. Dua puluhan tahun mereka telah bekerja, berlaku jujur dan mencukupkan gajinya untuk semua biaya hidup sehari-hari.

Anak-anak mereka pintar dan nilainya cukup dan bersaing untuk mendaftar dalam sekolah unggulan, tetapi apa daya keluarga si A tidak mempunyai uang untuk sekedar mendaftar saja. Memanfaatkan biaya gratis dengan alasan keluarga miskin nampaknya tidak wajar. Masa keluarga dengan suami-istri bekerja, bahkan bekerja pada publik dikategorikan keluarga miskin? Bukankah pengertian keluarga miskin itu adalah penghasilan kira kira 20.000 per hari ?

Hal ini bergejolak dalam pemikiran si A, “masa saya, lulusan perguruan tinggi, bekerja pada negara/ publik, selalu bekerja dengan baik, jujur lagi tetapi hanya untuk membiayai sekolah anak sebagaimana kemampuannya kok tidak bisa? Si A menggerutu dalam hatinya.

Kejadian di atas adalah kondisi yang terbiasa terjadi pada pegawai publik kita. Dan hampir dapat dipastikan bahwa saat itu akan ada niat si A untuk tidak bekerja jujur lagi. Niat korupsinya timbul dan jika tersedia kesempatan maka cukup memikirkan resikonya saja. Jika resiko dianggap rendah maka TERJADILAH KORUPSI. Korupsi pertama karena kebutuhan dan korupsi selanjutnya adalah memuaskan kerakusan.

Memahami hal di atas adalah sederhana dan mudah tidak terlalu susah untuk memikirkannya. Jikalaulah pemerintah tidak dapat memberikan remunerasi yang mencukupi bagi pegawai publik seperti si A untuk hidup cukup, bukankah pemerintah dapat memberikan fasilitas kepada pegawai publik semisal bebas biaya jika memasuki sekolah negeri, bebas biaya berobat untuk badan-badan kesehatan milik pemerintah. Tetapi juga bukan kepada badan-badan milik pemerintah yang kualitas pelayannya menyedihkan.

Hal ini akan membuat pekerja publik bisa lebih mandiri, dapat bekerja jujur dan lebih memfokuskan pemikiran dan tindakannya untuk hal-hal dalam rangka peningkatan pelayanan kepada kepentingan publik yang secara langsung akan berkontribusi positif terhadap hak dan kepentingan publik. Niat untuk korupsi untuk hanya memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan dapat ditekan. Keberhasilan menekan niat korupsi untuk hal-hal dasar akan berkontribusi langsung terhadap keberhasilan dalam penekanan niat korupsi untuk hal hal yang besar (greedy). Untuk itu Pemerintah perlu dan harus mengambil tindakan nyata untuk merealisasikannya.

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: